Kunci itu bernama istiqomah

Ketika ngaji dulu, pak Kyai-nya sering mengingatkan tentang istiqomah. Hampir setiap beberapa hari, tentang istiqomah ini dibahas meskipun mungkin hanya semenit dua menit. Ya mungkin karena ketika kecil kami terbiasa dengan hal-hal rutin: bangun, sarapan, sekolah, main, ngaji, main lagi (kadang ngakunya belajar kelompok sih), cuci kaki, terus tidur deh. Maka perihal istiqomah ini ndak terlalu menarik perhatian. 

Saya sudah lupa sih arti istiqomah yang disebut sama pak Kyai waktu ngaji dulu, ntah karena saya benar-benar lupa, atau waktu diajar saya sedang main pedang-pedangan pake bambu penunjuk ngaji dengan teman saya. Atau mungkin saya sedang sibuk ngelirik mbak-mbak lain yang sedang ngaji di sisi lain rumah pak Kyai. Tapi secara sederhana mungkin bisa disebut istiqomah adalah konsisten, tentunya karena saya diajarkan ketika ngaji … maka konteks konsisten yang diajarkan pak Kyai ini adalah konsisten secara ikhlash dalam beribadah untuk mendapat ridho Allah.

Perihal istiqomah ini ternyata bukan hanya sebagai kunci keberhasilan dalam beribadah lho, tapi juga salah satu kunci berhasil dalam kehidupan.

Continue reading Kunci itu bernama istiqomah

Percaya kepada Qada, Qadr dan Bahasa Pemrograman

Ketika SD, saya dan seluruh murid muslim di Indonesia pasti pernah diajarkan tentang rukun iman. Di mana salah satunya adalah percaya terhadap qada dan qadr (nulise semoga bener, ojo diseneni lek salah yo pak ustadz), mungkin bahasa non syariah-nya percaya kepada takdir dan nasib, meskipun saya sendiri bingung nerjemahinnya hehehe. Qada secara sederhana adalah segala ketentuan Allah yang dituliskan dari awal penciptaan (Genesys) sampai akhir (Kiamat/Apocalypse) sedangkan Qodr adalah ketentuan Allah yang telah terjadi terhadap mahluknya. Peranan Allah di qada dan qadar ini tentunya sangat dominan, karena semua adalah kehendak-Nya.

Perihal rukun ke 6 ini, selalu membuat saya galau sebenarnya. Misal … kalau Allah maha berkehendak dan sudah menetapkan semuanya di Lauh Mahfuzh, berarti Allah dong yang bertanggung jawab terhadap semua anarkisme yang terjadi. Karena beliau Maha Berkehendak dan Maha Mengatur, sehingga ketika seseorang menjadi baik atau jahat adalah kehendak-Nya. Padahal baik dan jahat itu menentukan the ultimate price yang dijanjikan oleh Allah sendiri yaitu Sorga dan Neraka.

Pun yang sama dengan hidayah, dimana semua yang tidak mendapat hidayah tidak akan mendapatkan tempat disisinya. Lha bagaimana mau mendapatkan tempat disisinya, kalau ternyata ditentukan dari awal-awal kalau seseorang tersebut ndak akan dapat hidayah. Lauh Mahfuzh itukan dibuat jauh hari sebelum Adan dan Hawa diciptakan. Disini seolah freewill dari para manusia itu di-nil-kan oleh Allah, dan para pendukung HAM pasti ndak akan suka ini hehehehe

Kegalauan itulah yang berkecamuk di pikiran saya, belasan tahun yang lalu (tua amat ya saya hehehe) sampai akhirnya …. (Negara api menyerang ? terlaulu sering saya pakai ya … ya wis Raisa mau jadi istri ke-2 saya #eh) … sampai akhirya Allah menunjukkan jawaban kegalauan saya, melalui hobby saya sendiri … computer programming.

Continue reading Percaya kepada Qada, Qadr dan Bahasa Pemrograman