Bahasa dan Perkembangan Karir

Screen Shot 2014 12 21 at 10 49 48 AM

Bahasa … sekilas memang kelihatan sederhana, tapi tanpanya kehidupan sosial mungkin tidak akan pernah ada. Saya sering melihat bagaimana nasib seseorang bisa berubah 180 derajat dengan berbekal pengetahuan akan bahasa yang dimilikinya, meskipun sebenarnya kemampuan berbahasa tersebut bukan kemampuan utamanya.

***

Mas Royyan namanya, kalau anda pernah baca berita tukang las Indonesia yang begitu dicari di luar negeri dengan gaji sampai puluhan juta rupiah per bulannya, nah mas Royyan ini adalah salah satunya. Hampir sebagian dunia pernah dikunjunginya dengan bekal ilmu ngelasnya. Continue reading Bahasa dan Perkembangan Karir

Permainan Monopoli

“Treeettt  … treeettt … “ aplikasi conference call di laptop saya berdering. Begitu melihat, yang ngecall adalah mantan pacar tercinta, segera saya pause semua kerjaan dan memasang wajah paling cakep bersinar ke arah camera yang nempel di ujung atas layar laptop. Begitu terkoneksi ternyata anak tertua saya, Arda, yang muncul di layar … tidak ketinggalan tentu adiknya, Asty, di samping sang kakak sambil pamer aktifitas bermain-main apa saja yang bisa dimainkan. 

Arda (AR) : “ayah jam berapa pulang ? dah makan belum ?”
Saya (AD): “bentar lagi ya sayang, kirim email satu terus langsung pulang” 
Asty (AS):pokoknya ayah harus janji ya pulang cepet, asty mau tunjukkan sesuatu pentinggg banget”  
Saya (AD):ya, ya dah dulu ya kalau begitu, biar ayah bisa kirim email satu dan terus pulang”

Dalam hati, saya mikir apa ya yang begitu penting untuk Asty tunjukkan kepada saya. Ah paling hasil ujian semester I Asty.

Sejurus kemudian, saya sudah dalam perjalanan dari kantor ke rumah. Ndak terlalu jauh sih sebenarnya, hanya 15 menit saja. Begitu sampai rumah, Arda dan Asty langsung lari membuka pagar dan menunggu saya keluar dari memarkir mobil. Dan seperti dugaan saya, kedua kakak beradik ini langsung menyetor segepok kertas hasil ujian mereka yang Alhamdulillah nilainya cukup bagus. “oh ini toh yang penting” kata saya …. “bukannnn, itu penting sih tapi ndak sepenting ini” Asty menarik sebuah kotak dari bawah meja kerja saya, dan ….. mengeluarkan satu set alat monopoli dan segara menatanya di lantai.

*****

Waktu itu saya masih kelas 3 SD, sekolah saya ndak terlalu jauh dari rumah kontrakan kami, mungkin sekitar 20 menit jalan kaki. Karena keterbatasan kelas, kami yang kelas 3 dan 4 SD harus masuk siang jam 12  sampai sekitar jam 4 sore. Setiap pagi, kalau ndak nggangguin mama saya masak, biasanya saya akan maen ke rumah tetangga sebelah. Tetangga sebelah saya itu namanya Pak Wawan, anak keduanya, Mas Apit saya memanggilnya umurnya setaun di atas saya. Pak Wawan ini adalah pedagang sepeda di pasar kecamatan kecil dimana kami tinggal saat itu, beliau juga adalah pemilik rumah kontrakan yang disewa ayah saya selama 10 tahun. Keluarga Pak Wawan ini bisa dibilang cukup berada untuk ukuran warga desa kami waktu itu. Karenanya, diantara anak-anak yang seumuran, mas Apit ini adalah salah satu anak yang memiliki koleksi mainan paling banyak, termasuk adalah Monopoli.

Sewaktu saya diajarkan main Monopoli untuk pertama kali, saya langsung jatuh hati dengan permainan ini. Karena dia menunjukkan bagaimana kita mengatur strategi keuangan kita, kapan kita harus belanja tanah, kapan kita harus sabar sebentar untuk tidak belanja, kapan kita harus membangun dan banyak lagi. Sayangnya harga papan permainan Monopoli waktu itu cukup mahal untuk ukuran gaji ayah saya. Dan sayapun akhirnya menumpang main di rumah mas Apit. Walaupun kadang di sana, kalau para senior-senior itu sudah berkumpul … saya sering hanya kebagian peran sebagai penjaga bank … alias tidak ikut serta dalam permainan. 

*****

Akhirnya kami bertiga, saya + Arda + Asty, pun bermain Monopoli. Sementara bunda menyiapkan makan malam untuk kami. Ketika bermain dengan anak-anak itu, saya sengaja sedikit mengalah dengan tidak menerapkan strategi yang aneh-aneh, semua dibuat mengalir saja. Ya meskipun kadang-kadang juga saya sisipkan beberapa moral seperti menabung, berhemat dan punya pesawat terbang hehehehe

IMG 1269

Permainan berhenti ketika bunda memanggil kami untuk makan malam, dan pemenangnya adalah Asty … yang menang karena faktor luck mendapat jackpot semua pajak dan denda yang ada di tengah papan permainan. 

“Ayah … besok pulang cepet lagi ya ? itu di papan monopolinya kalau dibalik ada banyak permainan lagi … halma, ludo, catur china dan ular tangga, kan aku ujiannya dah selesai … jadi bisa maen terus sama ayah” kata Asty memohon. Malam itu memang Asty sengaja memilih tidur dengan saya, sementara bundanya harus minggir dulu sebentar hehehe. Sayapun menutup malam itu dengan memberi janji pada Asty untuk bermain lagi dengannya esok hari.