Dead of “Tepo Sliro” Social Tolerance

LRT“Tepo sliro” is a javanesse terms for social tolerance. It is a well spoken behaviour on any self development handbook but rarely be applied on real world nowadays.

If you are a daily public transport user like me. Who patiently waiting for monorail and LRT to come among other thousand others, we will see how social tolerance has been fade away. Attitude like ignorance when crossing the street though traffic from opposite way still active, smoking in the crowd or parking our vehicle badly. All of those are prove that we are forget the essence of social tolerance.

Dead of “Tepo Sliro”

On every monorail and LRT there are special seats. These seats should be privilege of certain group of people, those are: pregnant woman, handicap, old people or mother and children. As soon we enter the train, we will be able to identify the spot because they are painted with a eye-catching light colour and a big text in board available on top of every seats. Despite all of those attributes, still some people arrogantly used this seats and stay there though some people with expected criteria is around and hanging-stand in the crowd. No one will try to warn the person who sit on special seats. Not because they are afraid, but more because they are already get used with this situation. It is no longer become a sin or something that we feels shame on, but it has been a new culture, a new culture who signs us on the dead of social tolerance.

Our call to raise “Tepo Sliro” again

It is our call to nurture social tolerance again. We may start from ourself and influence our family to do the same. I always tell my daughters on how we should speak with elder people, how to treat handicap & pregnant woman, etc. They accept it but sometime due to surrounding culture and society behaviour  again they tends to forget the value of social tolerance and I need to refresh them again.

Surat terbuka untuk PPI UT Pokjar Kuala Lumpur

Sebelumnya saya secara pribadi mohon maaf sebesar-besarnya kepada rekan-rekan mahasiswa UT Pokjar Kuala Lumpur karena satu hal harus meninggalkan Aula Hasannudin KBRI pada 23 Februari 2013 sebelum acara selesai.

Dipercaya menjadi Ketua PPI UT Pokjar Kuala Lumpur periode 2013/14 adalah sebuah kehormatan bagi saya, tapi juga sebuah amanah berat yang harus saya jaga. Bagaimanapun saya yakin bersama dengan dukungan teman-teman semua, hal yang susah pun akan menjadi mudah. Ketika hanya ada satu batang lidi, ianya begitu mudah dipatahkan, tapi ketika sekelompok lidi bersatu, mereka menjadi lebih kuat dan tidak bisa terceraikan. Mungkin begitulah lebih kurang gambaran tentang UT Pokjar Kuala Lumpur

Ketika teman-teman mahasiswa/i memilih kandidat untuk menjadi calon Ketua PPI UT Pokjar Kuala Lumpur, apakah itu saya atau kandidat yang lain, saya yakin teman-teman melihat adanya kelebihan terhadap kandidat tersebut. Dan karenanya teman-teman mencalonkan kandidat tersebut untuk mewakili PPI UT Pokjar Kuala Lumpur, selama setahun kedepan.

Tapi yang perlu saya garis bawahi, bahwa selain kelebihan, saya dan kandidat yang lain juga memiliki kekurangan dan kekurangan itu mungkin menjadi kelebihan dari teman-teman yang lain. Karenanya menjadi Ketua PPI UT Pokjar Kuala Lumpur bukan menjadikan saya seorang yang istimewa dan lebih tinggi derajatnya daripada teman-teman sekalian. Kita semua dalam PPI adalah saling melengkapi dan setiap dari kita mendapatkan peran yang sama untuk membawa UT Pokjar Kuala Lumpur ke arah yang lebih baik. Dan melalui tulisan ini saya meminta kerja sama dan dukungan teman-teman mahasiswa/i UT Pokjar Kuala Lumpur sekalian.

Apresiasi kepada pengurus sebelumnya

Terima kasih yang sebesar-besarnya juga saya apresiasikan kepada Mbak Erni Rahmayanti dan jajaran pengurus sebelumnya yang telah meletakan pondasi terhadap PPI UT Pokjar Kuala Lumpur sehingga bisa berkembang dan tumbuh hingga pada tahap ini.

Kedepannya, kami juga senantiasa mengharap bimbingan dan saran dari kepengurusan yang lama.

Kepengurusan baru dan program kerja

Perihal formulasi kepengurusan baru saat ini sedang kami (saya, beberapa rekan dan ketua pelaksana UT Pokjar Kuala Lumpur) diskusikan dan Insya Allah akan dirilis kepada anggota UT Pokjar Kuala Lumpur setelah final. Hal yang sama terhadap program kerja UT Pokjar Kuala Lumpur untuk setahun kedepan.

Kuala Lumpur, 25 Februari 2013

No need to shy about your name

As at this post is written, I have 1291 friends on Facebook. You may don’t believe it, but I actually manage to check for every friend I am going to add or confirm whether I know them or not. In a short, my social friend is not a virtual friend who I add just to make friend list surge.

Awkward thing, despite I already know person on my Facebook friend, and sometime manage to have direct face-to-face conversation with them on real-world, I can’t really recall true name of most of my friend. One reason, because most of friend are not use their original name on their Facebook, hence difficult to remember how they should be called properly, instead I call them using their Facebook name.

“Apalah arti sebuah nama ?” that is what Indonesia saying said. Meaning, why bother about a name, because eventually how people see you really depend on what you have been done. Some part of the message is true, but I don’t agree with name-don’t-care part. Name is given by our parent and our parent should have go trough lots of consideration before do that. Because our parent should have expectation and wishes when we were born. And the name will reflects those expectation and wishes.

Then if our parent already give us a good name with a very nice wishes on it, why we have to shy and hide it on our social ? Use your own name, and let the world know, make your parent proud because they know their first gift for their child is used properly.

Keep it simple and understandable

practicing our dramaYesterday morning me and my so called “college study club”, UT Pokjar Kuala Lumpur, had a meet and greet with Indonesia Ambassador for Malaysia and all of embassy staff, also with Dean of Universitas Terbuka Indonesia. As our respect to persons we would meet. We plan to perform a poetry drama.

Preparation was only few days before the event. Due to our work activity as well, these few days were discounted again and turned out we only have less than 10 hours to prepare the drama. This time including brainstorming, practice and make all props would be needed. It was a pretty tough struggle. However we managed to deliver the message and enchanted audiences.

Continue reading Keep it simple and understandable

Harus ditabok dulu baru “Niat”

Memiliki berat badan ideal mungkin adalah salah satu resolusi abadi yang selalu ada dalam punch list saya setiap awal tahun. Layaknya seorang project management professional, beragam rencana aktifitas lengkap dengan detailnya melengkapi resolusi tersebut untuk bisa dicapai. Tetapi, dasarnya manusia, tempatnya khilaf dan salah, saya jugalah yang pertama akan menghapus sedikit demi sedikit aktifititas tersebut dan berusaha menjadikan sang resolusi hanya menjadi hiasan hasil goretan pena (atau ketikan keyboard) hehehehe. Sampai saat tersebut terjadi … Continue reading Harus ditabok dulu baru “Niat”

Warga Indonesia di Malaysia peduli sesama melalui kempen donor darah “Merah Darahku, Putih Hatiku”

 

Fiuhh … lega akrhinya, kegiatan kempen donor darah “Merah Darahku Putih Hatiku” yang diselenggarakan pada 10 Februari 2013 di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur selesai. Hasil kegiatan cukup memuaskan, dengan sambutan yang antusias dari peserta yang terdiri dari warga negara Indonesia yang ada di sekitar Kuala Lumpur. Bahkan ada juga yang datang dari luar Kuala Lumpur juga lho ?

Kempen donor darah MDPH2013

Berawal dari diskusi ringan di Forum

Asal mula rencana diadakannya kegiatan “Merah Darahku Putih Hatiku” ini sebenarnya adalah dari diskusi ringan di Forum UT. Melalui diskusi sederhana ini akhirnya berlanjut ke chat dan beberapa kali kopi darat untuk merancang bagaimana format pelaksanaan kegiatan ini nantinya. Disepakati bahwa event ini akan diadakan sebagai kerjasama antara UT Pokjar Kuala Lumpur, Komunitas Supporter Garudaisme Malaya dan menggandeng pihak Pusat Darah Negara Malaysia. Pusat Darah Negara (PDN) Malaysia sediri adalah sebuah institusi dibawah Kementrian Kesihatan Malaysia yang memiliki tugas untuk mengoordinir pasokan dan produksi produk berbasis darah untuk kesehatan di Malaysia.

Melalui diskusi ini juga ditetapkan kegiatan akan dilakukan pada 10 Februari 2013 dan bertempat di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Continue reading Warga Indonesia di Malaysia peduli sesama melalui kempen donor darah “Merah Darahku, Putih Hatiku”