RSBI dibubarkan, tepatkah keputusan ini ?

201202170125171[1]Beberapa hal yang cukup ramai di Indonesia saat ini adalah berita tentang mbak Anggie yang didakwa bersalah korupsi dan “hanya” mendapat hukuman 4.5 tahun, Diangkatnya sang “anak emas” SBY yaitu KRMT Roy Suryo menjadi Menpora dan keputusan MK membubarkan RSBI. Kalau di bahas semua ndak akan cukup halaman thread ini, jadi saya akan coba ajak rekan2 berdiskusi tentang yang RSBI saja.

Pendidikan, menurut saya adalah salah satu hal yang sangat krusial dibutuhkan oleh negara kita untuk bisa bersaing dengan negara tetangga yang lain. Ianya bisa ditempuh baik melalui jalur pendidikan formal (sekolah, kuliah, kursus) atau informal (pengalaman kerja, karir, dll). Tapi secara umum, layaknya pendidikan adalah ditempuh melalui jalur formal.

Untuk menempuh secara jalur formal ini, seyogyanya diperlukan sebuah entitas yang memiliki segala kelebihan dan kenyamanan untuk belajar dan menggembleng otak-otak terbaik negeri kita. Disini harusnya ada sebuah proses alami yang akan menyaring kecerdasan yang boleh memasuki entitas tersebut, baik itu kecerdasan secara intelektual, sosial ataupun emosional. Kecerdasan bukan kekayaan, menjadi kata kunci kepada seseorang untuk bisa mengikuti pendidikan di entitas ini. Soekarno pernah melakukan hal ini sebelumnya, meskipun tidak dengan melalui pembentukan sebuah entitas pendidikan, tetapi dengan mengirimkan putra putri terbaik negeri ini, BJ Habibie adalah salah satu produk keberhasilan program Soekarno tersebut.

RSBI seharusnya adalah sebuah entitas yang berfungsi sebagaimana tujuan di atas, sebuah kawah candradimuka untuk putra putri terbaik bangsa. Yang akan mendidik mereka menjadi para kesatria yang nantinya akan mengangkat nama bangsa kita tercinta di kancah persaingan dunia. Sebuah tempat dimana siswa-siswa harapan tersebut belajar dengan segala fasilitas tanpa harus memperdulikan besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh sang orang tua, karena sebisa mungkin biaya tersebut dibuat sama dengan entitas pendidikan yang lain, bahkan kalau bisa biaya RSBI ini digratiskan, karena bukan sembarang orang yang bisa masuk ke sekolah ini.

Tapi yang terjadi sekarang, RSBI menjadi obyek komersialisasi para tenaga pengajar kita, dan dikrimansi sosial terjadi di dalamnya. Hal ini lah yang kemudian melandasi kebijakan MK untuk membubarkan status RSBI. RSBI menjadi sebuah kebanggaan siswa dan orang tua karena lebih kepada strata ekonomi mereka dan bukan karena kecerdasan mereka. Seorang siswa kelas RSBI menjadi seperti seorang ibu-ibu arisan yang dengan bangga membawa tas Hermes Birkin mereka yang boleh jadi kualitasnya sebenarnya setara dengan tas-tas yang dihasilkan oleh pengrajin di Tanggulangin, Sidoarjo.

Kebijakan menghapuskan status RSBI bagi saya adalah tidak tepat, karena saya berharap status RSBI masih tetap ada, tetapi kebijakan operasional RSBI yang seharusnya diubah. Sehingga seorang akan masuk RSBI dengan kebanggaan bukan sebagai seorang borjuism tapi karena mereka adalah calon putra putri terbaik bangsa Indonesia.

Foto diambil dari http://www.pesatnews.com/pictures/201202170125171.jpg

My 2013 resolution

Year 2012 passed, and 2013 has been rolling for 5 days now. New year is regularly good timing to perform evaluation of what we have done, learning from the past and setup new resolution for the future. I do so, and this post is a virtual pledge about my 2013 resolution.

My resolution for 2013 is not as much as 2012, they covered my health, social and financial life. Those resolutions are:

  • Reduce my fat and hopefully can stay at 65kg weight
  • Read and understanding 10 books
  • Double my charity expense
  • Visit 2 places I never visit before with my family

Realistic enough for 1 year aren’t they ? Those are my resolutions, what about you ?