Mau dong mas jadi enterpreneur seperti kamu ? bisa atur waktu sesuka hati

“wah enak ya mas, bisa nentuin waktu. kapan mau kerja, kapan mau pulang, kapan mau jalan2, dan lain-lain. Ajak-ajak dong mas saya ke bisnis sampean” demikian beberapa yang dikatakan sebagian teman saya waktu tau kemarin saya seharian “jalan-jalan” dari Jakarta. Menurut mereka (mungkin ya, ini pendapat pribadi saya) bahwa saya sudah berada di posisi kuadran B & I dari kuadran ESBI-nya Robert Kiyosaki dan punya kebebasan yang mereka bayangkan. Ya, memang sudah hampir 3 tahun sejak saya dan 2 orang kolega memutuskan untuk membangun jalur rezeki kami sendiri. Tapi kalau sudah sampai pada B&I yang benar2 bebas … saya rasa kami masih sangat jauh dari situ.

Hampir 7 dari 10 orang yang kami interview untuk posisi Software Engineer di perusahaan kami, ketika ditanya apa target dalam 5 tahun ke depan, selalu menjawab “punya usaha sendiri pak”. Dan ketika ditanya apa alasan bagi mereka untuk memiliki sebuah usaha sendiri adalah “karena bisa bebas”. Well, its not wrong, tidak pernah ada benar atau salah untuk pertanyaan semacam itu. 

Banyak orang mungkin melihat bagaimana para techno billionaire mampu mencapai dream-live mereka. Dan dream-live ini menjadi motivasi banyak orang akhirnya untuk ikut juga membangun kerajaan bisnis mereka. Ya sayangnya, yang banyak dilihat atau mungkin hanya mau dilihat adalah hasil akhir dari perjalanan para techno billionaire itu, jarang yang mau melihat bagaimana sebenarnya liku perjalanan yang dilalui oleh mereka.

Seperti saya tulis diatas, saya masih jauh dari klasifikasi bebas finansial di kuadran B&I Robert Kiyosaki, apalagi memiliki pencapaian seperti para techno billionaire. Tapi beberapa orang di sekitar saya melihat saya mungkin sudah mencapai tahap kebebasan tersebut, dan mereka menginginkan saya untuk mengajak mereka masuk kedalamnya. Padahal yang tidak mereka lihat adalah dua tahun sebelumnya saya harus memacu otak lebih dari 14 jam sehari ngoding sendirian untuk menyelesaikan proyek pertama kami. Yang tidak mereka lihat adalah bagaimana hampir setiap hari jam 6.30 pagi dan 10 malam saya akan teleconference dengan rekan kerja atau klien yang ada di belahan lain bumi. Yang tidak mereka lihat adalah bagaimana dalam sebulan saya harus melahap puluhan whitepaper, dokumen dan artikel teknikal untuk menyusun strategi perusahaan kami. Yang tidak mereka lihat adalah bagaimana setiap hari, termasuk weekend, saya meluangkan setidaknya sejam untuk mempelajari hal baru demi memperdalam kemampuan yang saya miliki. Dan paling penting yang tidak mereka lihat adalah, bagaimana saya menjaga fokus terhadap yang saya lakukan sehingga ketika melakukan semua hal tersebut tidak mengganggu keseimbangan saya terhadap keluarga, sosial dan spiritual.Dan saya yakin, para techno-billionaire yang levelnya jauh ada di atas saya itu, pasti punya lebih banyak hal yang “tidak dilihat” yang harus siap ditaklukan oleh mereka yang ingin melampaui atau menyamai pencampaian para techno-billionaire tersebut. 

Ada seorang teman yang saya kenal, dia dulunya … saya tekankan dulunya …. memiliki pekerjaan yang sangat bagus: perusahaan yang kredibel, karir cemerlang dan tantangan yang menurut saya cukup menyenangkan. Hanya saja teman saya ini, ndak suka dengan gaya kepemimpinan  boss barunya yang cenderung memberi tekanan lebih dibanding boss lama-nya yang harus dipindahkan ke negara lain. Dan ketika titik jenuh ketidaksukaanya memuncak, sang teman ini resign dan menjalankan usaha sendiri. Nothing wrong with that … it was his own decision and he was actually running well on his first and first semester of second year. Dan keadaaan berubah ketika negara api menyerang (ya I know … ini joke basi dan sudah berumur, like me hahahha). Teman saya ini, pada tahun kedua mengambil keputusan untuk mengclaim kebebasannya dengan merekrut pegawai dan mendelegasikan semuanya kepada para pegawai ini, dan ketika saya tulis “semua” yang dimaksud adalah “semua” karena sang teman merasa, jalur kebebasannya sudah aman dan stabil … dan kenyataan berkata lain, it did not work as per expected dan burning-rate overhead-nya membakar semua pundi2-nya, sang teman menyesal meninggalkan perusahaan yang dulu membesarkannya hanya demi “kebebasan semu”  yang tidak bisa dia raih.

Lain cerita dengan teman saya yang lain, dia memulai sebuah bisnis toko online menjual barang-barang tertentu yang dibeli dari pusat grosir Jakarta dan dijual lagi. Target pasarnya adalah orang-orang diluar Jawa yang harus membeli barang-barang ini dengan harga tinggi. Business run well, it made earning into his bank account. Pendapatan dari bisnis online tersebut belumlah sebesar gaji yang dia terima dari perusahaan, tapi tidak dengan kontribusi dan fokus waktunya. Fokus dan pikiran sang teman lebih digunakan untuk bisnis online-nya daripada kepada perusahaan. Management pun melihat performance teman ini menurun drastis dan memberikan banyak teguran baik secara halus ataupun kasar. Sang teman tidak terima, dia keluar dari perusahaan … dan 6 bulan kemudian … saya dapati dia berusaha mencari pekerjaan lain karena bisnis online yang dia miliki ternyata belum siap untuk menjadi sumber penghidupannya.

Tidak salah memang membangun usaha sendiri, dan saya rasa semua orang ingin melakukannya. Menyegarakan memulai sebuah usaha, juga bukan kesalahan. Tetapi, ketika kita memutuskan memulai usaha, maka energi yang kita keluarkan untuk usaha tersebut haruslah 200% … kita harus bersedia mengorbankan sebagian dari kenyamanan kita untuk belajar dan menjalankan usaha tersebut.  Begitu juga dengan ketika misal kita memiliki side job atau usaha sampingan, ndak salah, dengan catatan, kita melakukannya di luar kewajiban kita kepada perusahaan yang membayar waktu kita, dan sama seperti pernyataan di kalimat sebelumnya … itu berarti harus bersedia mengorbankan sebagian dari kenyamanan kita.

Marilah menjadi seorang pekerja, pengusaha, pekerja & pengusaha (apapun pilihan anda) yang baik untuk mencapai tujuan kita … dan seperti tag-tag yang ada di dunia maya … #janganlupabahagia