Ada cinta di kemudi kendaraanmu

Hari ini saya dan nyonya kembali menghabiskan waktu bersama di mobil menyusuri jalur Pantura. Dimulai dengan macetnya keluar dari Jakarta (next kalau mau keluar Jakarta pastikan cek radio Elshinta atau baca Detik dulu kalau-kalau ada truk terbakar di tol dalam kota dan berakibat pada kerusakan sistemik kelancaran semua jalan tol yang ada), diteruskan dengan menelusuri pemandangan Pantura dan menentukan kuliner apa yang akan di kunjungi. Akhirnya kami berhenti sebentar untuk rehat di Hotel Sendang Sari Batang. Maunya sih istirahat, lha kok, ndak iso turu, pikiran saya nglambyar ndak jelas. Nyonya sdh tertidur pulas, seharian dia berusaha untuk melek nemeni suaminya yang sedang konsen memacu mesin memecah hujan yang ndak berhenti turun dari pagi sampai sore di hampir semua kota yang dilewati.

Perjalanan Surabaya – Jakarta dengan mobil bukan hal baru bagi kami. Sewaktu masih tinggal di Depok, kami melakukannya hampir setiap tahun 2x. Hanya saja itu rame-rame, full sekeluarga dengan anak-anak. Ini adalah kedua kalinya saya dan nyonya nyetir bareng jarak jauh Surabaya – Jakarta PP hanya berdua. Yang pertama adalah ketika kami akan melakukan test kesehatan untuk keberangkatan haji kami tahun sebelumnya. 

Banyak yang bertanya ke kami, “kenapa bawa mobil sendiri ? kok ndak naik pesawat saja dari Surabaya ke Jakarta, atau kereta dan baru naik Uber atau Gojek di Jakarta”. Ya, kadang pikiran seperti itu terlintas sih di benak kami, dan pernah beberapa kali kami melakukannya. Tapi, ada sesuatu yang ngangeni dari proses “drive date”  ini (atau date-drive ya ? mbuh wis), sesuatu yang menurut saya menjadikan chemistry antara saya dan istri menjadi lebih dekat. 

Ketika menyetir berdua ini, saya merasakan lebih banyak waktu bagi kami berdua untuk lebih rileks dan bicara dari hati ke hati. Well, bukannya kami ndak pernah bicara di waktu lain sih, komunikasi kami berdua Insya Allah baik dalam rutinitas sehari-hari. Hanya saja ketika nyetir ini, ndak ada orang lain, hanya kami berdua (dan kadang suara radio atau 3 lagu U2 dan Sambalado-nya Ayu TingTing yang ada di handphone saya), dan itu membuat kami bisa  bicara secara lebih “dekat”. Hal-hal yang kami bahas: sepele sih, … misal mengenang masa lalu kami, cerita-cerita tentang masa kecil sebelum kami bertemu, perihal curhatan anak kepada kami, dan yang paling penting adalah … mengingat lagi kenapa kami berdua saling mencintai.

Perjalanan ini, bisa digambarkan sebagai perjalanan hidup kami, dimana saya sebagai kepala keluarga mengendarai kendaraan (keluarga) dan istri saya sebagai belahan jiwa, menemani saya dalam perjalanan tersebut. Kami saling melengkapi, ketika hendak masuk tol, istri menyiapkan uang kecil yang bersesuaian atau mendekati tarif tol yang harus kami bayar sementara saya mengendarai. Ketika saya lapar atau haus, istri saya dengan ikhlash mengupas makanan atau minuman dan menyuapkannya ke mulut saya selama saya menyetir, ketika saya ndak bisa melihat sisi depan kiri kendaraan untuk melaju dari sisi kiri, istri saya membantu (ok yang ini agak salah sih … tapi truk2 sekarang pada suka jalan di jalur kanan terus). Singkat cerita istri selalu mendukung saya, sehingga saya bisa fokus mengendarai kendaaraan kami dengan selamat dan nyaman mencapai tujuan. Dalam kehidupan berkeluarga pun, istri punya peranan yang penting untuk mendukung suaminya memimpin bahtera keluarganya ke arah kebahagiaan. Tanpa dukungan dari istri, sulit sekali bagi suami untuk bisa berhasil. Pepatah selalu bilang “dibalik seorang lelaki yang berhasil, ada wanita-wanita yang hebat”, saya selalu meyakini wanita-wanita ini adalah seorang “ibu” dan seorang “istri”

Dulu, saya biasa nyetir non-stop sampai belasan jam tanpa nginep, biasanya kami akan beristirahat di SPBU. Ketika di perjalanan, saya sering minta istri saya untuk tidur kalau dia merasa ngantuk. Tapi istri saya tidak mau atau tidak bisa tidur, katanya “saya ndak bisa tidur memikirkan sampean nyaman atau tidak ketika nyetir”. Karena itu dalam beberapa perjalanan terakhir, saya sering memilih singgah sebentar untuk menginap di tengah perjalanan, sehingga baik saya dan istri bisa istirahat + bersih2 dan melanjutkan lagi esok hari. Dan itu yang patut terjadi dalam keluarga, baik suami dan istri saling menjaga dalam suka dan duka. Menangis bersama, berjuang bersama dan gembira bersama.

Semoga perjalanan kami besok selamat sampai rumah kami, agar bisa berjumpa dengan anak-anak kami, dengan semangat keluarga samawa yang lebih diperbaharui. 

Paling akhir, tulisan ini saya dedikasikan untuk Uliya Mahalin, seorang wanita hebat, belahan jiwa, dan istri saya paling tercinta. 

NB: ada tulisan “paling tercinta” bukan berarti saya punya lebih dari satu istri ya … :D