Hai Hujan, apa kabarmu hari ini ?

Hai Hujan, terima kasih karena sudah mengunjungiku hari ini. Sudah sebulan ini, hampir tiap hari kamu menjumpaiku setelah lamaaa sekali kita tidak bersua. Hari ini kau nampak galau hujan. Mendung yang mengiringimu gelap sekali dan suara gunturmy keras terdengar. Semoga kau ndak sedang baper ya Hujan ?

Aku tau kenapa kamu galau Hujan. Kamu selalu dijadikan kambing hitam banyak orang. Padahal kamu ndak berjenggot seperti kambing, apalagi hitam. Kalau kamu berjenggot, hai Hujan, kamu mungkin ndak dituduh sebagai kambing hitam … tapi akan dibilang anggotanya ISIS atau kelompok muslim radikal. Ah Hujan.

Ya hujan, kamu bercerita tentang kesedihanmu, tentang betapa orang menyalahkanmu ketika lama tiada kau datang sehingga panen mereka gagal. Sungguh kau tak berdosa hujan, seandainya mereka belajar tentang sistem pertanian minim air yang tak selalu berharap terhadap sumur tadah hujan. 

Tapi giliran kau sering datang wahai hujan, para pengguna jalan akan memaki kamu karena menuduhmu sebagai biangnya banjir, root cause segala jenis kemacetan. Seandainya kami para manusia menyadari, tiada kau bersalah disini hai Hujan, karena kamilah yang tidak pernah disiplin. Disiplin dalam membuang sampah, disiplin dalam menjaga sistem perairan kami, dan disiplin untuk bersahabat dengan alam kami. Sungguh Hujan, kalau kami lebih disiplin, maka kau tidak akan pernah dipersalahkan.

Dan paling kau bersedih Hujan, kau disalahkan oleh Jones, para Jomblo Ngenes, menjadi penyebab kejombloan mereka. Mereka berkata ketika kau hadir hai Hujan, mereka tidak bisa keluar untuk mencari belahan jiwa mereka. Padahal dalam hati mereka berteriak lega, karena ketika ditanya “kenapa ndak malam mingguan ?” maka disebutlah namamu “hujan” …. oh Hujan.

Tetaplah mengalir wahai hujan, terlepas bagaimana engkau dinilai oleh kami para manusia wahai Hujan. Penuhilah fitrahmu sebagai salah satu berkah yang ditutunkan oleh Sang Maha Kuasa kepada bumi.

Terima kasih Hujan.