Screen-Shot-2014-05-04-at-6.12.44-pm.png

Jangan lakukan hal sepele ini di Singapura

Sebelum blog saya jadi jamuran, ada baiknya saya update dulu. Kali ini, saya ingin menulis tentang Singapore. Negara kecil tapi kaya yang terletak hanya satu lompatan salto dari pulau Batam ini sering menjadi tujuan wisata warga Indonesia, terlebih dengan bermunculannya aneka airline yang menawarkan penerbangan murah. Beberapa daya tarik yang dimiliki Singapore adalah Infra struktur yang modern, taman hiburan yang beraneka ragam dan tentunya surga belanja. Tapi hati-hati lho, Singapore juga dikenal dengan “Kota Denda” atau “Fine City” dimana banyak sekali peraturan-peraturan disana berakibat dengan denda yang terbilang besar bagi pelanggarnya, termasuk tamu asing yang berkunjungan ke Singapore. Bahkan untuk hal-hal yang mungkin terkesan sepele bagi kita, warga Indonesia.

Screen Shot 2014 05 04 at 6 12 44 pm

(Sumber: airsuam50.blogspot.sg)

Oke, sebelum bahas lebih jauh. Pertama harus kita pahami, penegakan hukum di negara ini sangat ketat. Tidak ada diskriminasi apakah kita warga asing atau Singaporean, semuanya harus mematuhi peraturan yang berlaku di negara ini. Yang kedua, petugas di Singapore, khususnya untuk Civil Law seringkali tidak berseragam, mereka hanya dibekali badge khusus dan diberikan kuasa untuk memberikan denda kepada warga yang melanggar. Jadi jangan sekali2 berfikir “ah … ndak ada polisi ini” … karena bisa jadi, orang yang ndak jauh dari kita ternyata adalah polisi yang sedang “nyamar”. 

Jaywalking – Menyebrang tidak pada tempatnya

Persis di depan condo yang saya tempati di Singapore kebetulan ada halte bus. Karenanya saya lebih senang menggunakan bus sebagai tranportasi saya bila sedang di Singapore, karena bisa berhenti di halte depan condo dan jalan hanya 5 menit … sampai deh. Nah, dulu … catat ya dulu … acap kali … dari halte saya menyebrang jalan langsung ke condo, karena kebetulan Jl River Valley yang membatasi condo dengan halte bus tidak terlalu sibuk alur lalu lintasnya. Saya agak “malas” untuk berjalan ke traffic light yang ada diujung jalan dan putar balik ke condo, karena akan makan waktu lebih lama (ini bad habit ya, jangan ditiru, hehehe).

Tapi itu, dulu, until one day … someone told me, bahwa apa yang saya lakukan adalah melanggar hukum. Dan pelanggaran ini bisa dikenakan denda sebesar SGD 500 atau sekitar 4.7 Juta rupiah.

Dan sejak saat itulah, saya begitu mencintai traffic light, ya daripada kehilangan 4.7 juta untuk lebih cepat 10 menit … dan juga toh jalan sedikit lebih baik untuk kesehatan saya hehehe

Permen Karet

Kalau ke Singapore, yang namanya convenience store semacam 7/11 atau Cheers menjamur di mana-mana. Ya, mirip lah sama Indomaret dan Alfamart di Indonesia, hampir di setiap ujung jalan ketemu. Tapi coba deh amati, semua convenience store tersebut sama sekali ndak ada yang jual permen karet. Kenapa ? Selidik punya selidik, ternyata permen karet dilarang di Singapore.

Katanya sih karena zaman dahulu kala (jadi kayak Brama Kumbara saja, pake zaman dahulu kala) … Pemerintah Singapore sering menemukan sampah permen karet yang dibuang (sengaja ditempelkan) sembarangan di fasilitas-fasilitas umum, seperti toilet, tempat duduk bahkan pintu MRT. Hal ini tentunya sangat menggangu dan berpotensi merusak fasilitas umum tersebut, dan karenanya dilaranglah permen karet di Singapura.

Jadi kalau anda adalah penggemar permen karet, pastikan untuk tidak mengkonsumsinya di tempat umum, karena begitu sampah karetnya dibuang dan keluar dari mulut, anda berpotensi untuk mengalami kerugian sebesar SGD 1000 atau setara 9.4 Juta rupiah … dan itu akan menjadi permen karet termahal yang harus anda bayar hehehe

Makan dan minum di transportasi publik

Transportasi publik menjadi andalan utama mobilisasi para Singaporean. Mungkin karena selain harga mobil yang memang mahal juga kenyamanan yang diberikan oleh transportasi publik di negara ini adalah grade AAA. Termasuk juga untuk warga asing yang berkunjung ke negara ini.

Nah, kalau naik alat transportasi publik, berhatil-hatilah, jangan makan dan minum didalamnya. Karena boleh jadi anti kita akan diberhentikan polisi dan dikenakan denda sebesar SGD 1000, karena makan dan minum di dalam transportasi publik adalah dilarang di Singapore.

Fakir Wifi atau Utilitas

Ini sering terjadi nih. Buka gadget, cari wifi yang open dan “numpang” internetan pake wifi tersebut. Kalau izin sih ndak apa-apa. Tapi kalau ndak izin, baiknya jangan mikir deh untuk melakukan hal tersebut. Karena menggunakan wifi atau utilitas lain tanpa seizin pemiliknya, bisa berakibat pada denda sebesar SGD 5000 … ya saya ndak saalah tulis, SGD 5000 atau 47 Juta rupiah. Ini termasuk, tiba-tiba numpang listrik di colokan yang nempel di tembok tanpa seizin pemiliknya. Dulu saya biasa lakukan kalau sedang di food court di salah satu mall di Bandung hehehe (ini bad habit, jangan ditiru ya)

Memberi makan burung

Screen Shot 2014 05 04 at 6 09 06 pm

(Sumber: foto pribadi)

Burung dara atau gagak banyak bisa kita jumpai di taman-taman atau sepanjang pedestrian Singapore. Pastinya menyenangkan ya, jalan sore-sore sama anak dan istri atau pacar atau cem-ceman, terus lihat burung2 itu sedang bergerombol. Foto-fotoan dengan tuh burung, ngrayu cem-ceman dengan lagunya Kahitna yang “kala kita lihat, sepasang merpati … “ dan seterusnya …. lemparin roti ke tuh burung terus difoto dan disebarin lewat twitter dan fesbuk dengan status “Menjadi penyayang binatang @Singapore” wehhh … mantab

Eits, tapi yang terakhir itu … yang kasih makan burung itu, ternyata “haram” hukumnya di Singapore. Karena berpotensi membuat burung-burung tersebut menjadi agresif, dan juga kalau ternyata burungnya ndak suka dengan makanan yang kita berikan malah akan menambah sampah pada negeri ini. Dan denda yang ditetapkan untuk pelanggaran ini adalah sebesar SGD 500.

Narkoba

Nah kalau yang ini pasti semua pada tau deh. Segala jenis obat2an terlarang dan psikotropika di negara ini adalah terlarang. Dan ndak tanggung2, besar atau kecil, sedikit atau banyak … kalau ketauan … hukumannya adalah mati … jadi ati2 deh dengan ini. Daripada bawa daun ganja, mariyuana dan sejenisnya. Mending bawa bayem, kangkung dan kenikir deh buat nyambel di Singapore, makanan disini mahal soalnya

De El El

Sebenarnya masih banyak lagi sih denda-denda yang lain, tapi yang di atas itu yang umum dianggap sepele orang Indonesia, kecuali yang Narkoba, tapi karena hukumannya — MATI — baiknya saya ikutkan juga.

5 thoughts on “Jangan lakukan hal sepele ini di Singapura”

  1. haiiisss baru tau.. Soal nyebrang pun bole kena denda?
    ahh nasib baik utk saya.. Masa lalu tu disana main asal nyebrang.. Abis nya mau muter, jauh banget laa paboss :D

  2. Singapore..fine city hehe..eh iya kah mas numpang free WiFi kena denda? eeeww.. waktu di sana aku selalu pake WiFi mas, ga pernah beli sim card hehehe :P

  3. Yg bikin sutris di Sg itu gak bisa nyetop taxi dan turun dari taxi di sembarang tempat. Capek jalan mulu!. Btw InshaAllah tgl 29-31 mei aku jadi ke Sg. Gak kepengen nraktir aku ta ?

Comments are closed.