Fix “PANIC” error di intellisense Visual Studio Code setelah upgarde Go

Sudah lama eh ndak update ini blog, 6 bulan kosong melompong ndak ada posting baru

Baiklah, jadi semalam ceritanya saya update Go di Mac saya ke versi 1.9 karena saya ingin kontribusi sesuatu ke salah satu out-of-the-box packagenya. Dibukalah ini Visual Studio Code dan ndilalah saya dapat error ini di fitur intellisense VS Code. Saya ganti pake sublime dan vim sama saja

Screen Shot 2017 06 17 at 7 49 28 AM

PANIC di intellisense

Saya ingat dulu pernah dapat masalah yang sama, tapi lupa bagaimana. Dugaan saya sih pasti ada hubungane dengan gocode tapi yo saya juga lupa gocode carinya dimana

Google save my day, dan saya tuliskan disini agar besok kalau lupa bisa gampang carinya. Jadi untuk membetulkannya adalah dengan

ariefdarmawan@conf$ gocode close

ariefdarmawan@conf$ go get -u github.com/nsf/gocode


Iya cukup dengan dua perintah itu, dan masalah intelisense terselesaikan

Screen Shot 2017 06 17 at 7 30 21 AM

Memperbaiki “could not get thread count” ketika mendebug Go menggunakan Delve di OSX 10.12 Sierra

Jadi cerita ini dimulai, ketika saya update OSX saya ke 10.12, dengan aneka harapan bahwa MBP saya akan jadi jauh lebih luar biasa. Tapi kekecewaan mulai menghinggapi hati ketika SDD drive mulai bising ndak karu2an ngalahin suara telolet bus AKAP, asumsi saya sih karena ngindex file 300GB lebih yang kebanyakan foto2 alay selfi saya dan keluarga plus beberapa meme dan video lucu bahan untuk image war di WA atau Fesbuk, tapi kok setelah 6 jam belum kelar2 juga itu bising. Getting worse, dragging object di OSX ndak bisa dengan 3 jari lagi (eh bukan saya pendukung Anis – Sandiaga ya), dan sampe sekarang saya masih gagal move-on untuk drag dengan 3 jari, akhirnya kembali ke mouse deh. Eh, kok jadi curhat masalah OSX ya, ini kan judule troubleshoot Delve di OSX, ok back to topic. 

Setelah yakin, saya bisa mengakses file-file di laptop, nonton film dan maen game dengan baik dan benar. Baru deh ngurusin kerjaan, buka VS Code untuk liat2 project yang sedang dikerjakan, works fine, coba auto-complete, smoooothhhh …. pasang breakpoint, debug …. teng ing eng, dapat surat cinta dari Delve 

Screen Shot 2016 12 28 at 10 27 05 AM

Modyaarrrr …. apalagi ini, coba cari2 di Google, ndak nemu apa2. Coba buka itu debugger.go line 61, tracing sana sini, agak nemu sih root causnya di beberapa file yang sayangnya ditulis dengan bahasa C. Mau betulin, tantangan compile yang ribet minta ampun dan godaan sosial media lebih tinggi, akhirnya publish catatan saja di github dan lebih memilih debug dengan cara konvensional dan menunggu ada programmer lain yang berbaik hati melakukan saran yang saya tulis untuk mbetulin Delve. 

Dannnnn …. setelah beberapa bulan, akhirnya …. Continue reading Memperbaiki “could not get thread count” ketika mendebug Go menggunakan Delve di OSX 10.12 Sierra

Big Love: EDW and Big Data

Enterprise Data Warehouse (EDW) for decades has been used to powering up lots of enterprise analysis. EDW capability to bring data from various source and transform it into models needed by all layers of the company become main justification to made EDW an imperative element of business analytic. When Big Data is introduced as new analytic platform, due to totally different characteristic between these two technologies, people think EDW and Big Data could not stand side by side … or could they ?

Despite have extreme different on almost every step they do to perform analytic, both EDW and Big Data actually can exist side by side and complement each other. There could be big love in the air between these two platform, as long as it does correctly.

Continue reading Big Love: EDW and Big Data

Kunci itu bernama istiqomah

Ketika ngaji dulu, pak Kyai-nya sering mengingatkan tentang istiqomah. Hampir setiap beberapa hari, tentang istiqomah ini dibahas meskipun mungkin hanya semenit dua menit. Ya mungkin karena ketika kecil kami terbiasa dengan hal-hal rutin: bangun, sarapan, sekolah, main, ngaji, main lagi (kadang ngakunya belajar kelompok sih), cuci kaki, terus tidur deh. Maka perihal istiqomah ini ndak terlalu menarik perhatian. 

Saya sudah lupa sih arti istiqomah yang disebut sama pak Kyai waktu ngaji dulu, ntah karena saya benar-benar lupa, atau waktu diajar saya sedang main pedang-pedangan pake bambu penunjuk ngaji dengan teman saya. Atau mungkin saya sedang sibuk ngelirik mbak-mbak lain yang sedang ngaji di sisi lain rumah pak Kyai. Tapi secara sederhana mungkin bisa disebut istiqomah adalah konsisten, tentunya karena saya diajarkan ketika ngaji … maka konteks konsisten yang diajarkan pak Kyai ini adalah konsisten secara ikhlash dalam beribadah untuk mendapat ridho Allah.

Perihal istiqomah ini ternyata bukan hanya sebagai kunci keberhasilan dalam beribadah lho, tapi juga salah satu kunci berhasil dalam kehidupan.

Continue reading Kunci itu bernama istiqomah

Percaya kepada Qada, Qadr dan Bahasa Pemrograman

Ketika SD, saya dan seluruh murid muslim di Indonesia pasti pernah diajarkan tentang rukun iman. Di mana salah satunya adalah percaya terhadap qada dan qadr (nulise semoga bener, ojo diseneni lek salah yo pak ustadz), mungkin bahasa non syariah-nya percaya kepada takdir dan nasib, meskipun saya sendiri bingung nerjemahinnya hehehe. Qada secara sederhana adalah segala ketentuan Allah yang dituliskan dari awal penciptaan (Genesys) sampai akhir (Kiamat/Apocalypse) sedangkan Qodr adalah ketentuan Allah yang telah terjadi terhadap mahluknya. Peranan Allah di qada dan qadar ini tentunya sangat dominan, karena semua adalah kehendak-Nya.

Perihal rukun ke 6 ini, selalu membuat saya galau sebenarnya. Misal … kalau Allah maha berkehendak dan sudah menetapkan semuanya di Lauh Mahfuzh, berarti Allah dong yang bertanggung jawab terhadap semua anarkisme yang terjadi. Karena beliau Maha Berkehendak dan Maha Mengatur, sehingga ketika seseorang menjadi baik atau jahat adalah kehendak-Nya. Padahal baik dan jahat itu menentukan the ultimate price yang dijanjikan oleh Allah sendiri yaitu Sorga dan Neraka.

Pun yang sama dengan hidayah, dimana semua yang tidak mendapat hidayah tidak akan mendapatkan tempat disisinya. Lha bagaimana mau mendapatkan tempat disisinya, kalau ternyata ditentukan dari awal-awal kalau seseorang tersebut ndak akan dapat hidayah. Lauh Mahfuzh itukan dibuat jauh hari sebelum Adan dan Hawa diciptakan. Disini seolah freewill dari para manusia itu di-nil-kan oleh Allah, dan para pendukung HAM pasti ndak akan suka ini hehehehe

Kegalauan itulah yang berkecamuk di pikiran saya, belasan tahun yang lalu (tua amat ya saya hehehe) sampai akhirnya …. (Negara api menyerang ? terlaulu sering saya pakai ya … ya wis Raisa mau jadi istri ke-2 saya #eh) … sampai akhirya Allah menunjukkan jawaban kegalauan saya, melalui hobby saya sendiri … computer programming.

Continue reading Percaya kepada Qada, Qadr dan Bahasa Pemrograman

Mau dong mas jadi enterpreneur seperti kamu ? bisa atur waktu sesuka hati

“wah enak ya mas, bisa nentuin waktu. kapan mau kerja, kapan mau pulang, kapan mau jalan2, dan lain-lain. Ajak-ajak dong mas saya ke bisnis sampean” demikian beberapa yang dikatakan sebagian teman saya waktu tau kemarin saya seharian “jalan-jalan” dari Jakarta. Menurut mereka (mungkin ya, ini pendapat pribadi saya) bahwa saya sudah berada di posisi kuadran B & I dari kuadran ESBI-nya Robert Kiyosaki dan punya kebebasan yang mereka bayangkan. Ya, memang sudah hampir 3 tahun sejak saya dan 2 orang kolega memutuskan untuk membangun jalur rezeki kami sendiri. Tapi kalau sudah sampai pada B&I yang benar2 bebas … saya rasa kami masih sangat jauh dari situ.

Hampir 7 dari 10 orang yang kami interview untuk posisi Software Engineer di perusahaan kami, ketika ditanya apa target dalam 5 tahun ke depan, selalu menjawab “punya usaha sendiri pak”. Dan ketika ditanya apa alasan bagi mereka untuk memiliki sebuah usaha sendiri adalah “karena bisa bebas”. Well, its not wrong, tidak pernah ada benar atau salah untuk pertanyaan semacam itu. 

Banyak orang mungkin melihat bagaimana para techno billionaire mampu mencapai dream-live mereka. Dan dream-live ini menjadi motivasi banyak orang akhirnya untuk ikut juga membangun kerajaan bisnis mereka. Ya sayangnya, yang banyak dilihat atau mungkin hanya mau dilihat adalah hasil akhir dari perjalanan para techno billionaire itu, jarang yang mau melihat bagaimana sebenarnya liku perjalanan yang dilalui oleh mereka.

Continue reading Mau dong mas jadi enterpreneur seperti kamu ? bisa atur waktu sesuka hati

Ada cinta di kemudi kendaraanmu

Hari ini saya dan nyonya kembali menghabiskan waktu bersama di mobil menyusuri jalur Pantura. Dimulai dengan macetnya keluar dari Jakarta (next kalau mau keluar Jakarta pastikan cek radio Elshinta atau baca Detik dulu kalau-kalau ada truk terbakar di tol dalam kota dan berakibat pada kerusakan sistemik kelancaran semua jalan tol yang ada), diteruskan dengan menelusuri pemandangan Pantura dan menentukan kuliner apa yang akan di kunjungi. Akhirnya kami berhenti sebentar untuk rehat di Hotel Sendang Sari Batang. Maunya sih istirahat, lha kok, ndak iso turu, pikiran saya nglambyar ndak jelas. Nyonya sdh tertidur pulas, seharian dia berusaha untuk melek nemeni suaminya yang sedang konsen memacu mesin memecah hujan yang ndak berhenti turun dari pagi sampai sore di hampir semua kota yang dilewati.

Perjalanan Surabaya – Jakarta dengan mobil bukan hal baru bagi kami. Sewaktu masih tinggal di Depok, kami melakukannya hampir setiap tahun 2x. Hanya saja itu rame-rame, full sekeluarga dengan anak-anak. Ini adalah kedua kalinya saya dan nyonya nyetir bareng jarak jauh Surabaya – Jakarta PP hanya berdua. Yang pertama adalah ketika kami akan melakukan test kesehatan untuk keberangkatan haji kami tahun sebelumnya. 

Banyak yang bertanya ke kami, “kenapa bawa mobil sendiri ? kok ndak naik pesawat saja dari Surabaya ke Jakarta, atau kereta dan baru naik Uber atau Gojek di Jakarta”. Ya, kadang pikiran seperti itu terlintas sih di benak kami, dan pernah beberapa kali kami melakukannya. Tapi, ada sesuatu yang ngangeni dari proses “drive date”  ini (atau date-drive ya ? mbuh wis), sesuatu yang menurut saya menjadikan chemistry antara saya dan istri menjadi lebih dekat. 

Continue reading Ada cinta di kemudi kendaraanmu

Hai Hujan, apa kabarmu hari ini ?

Hai Hujan, terima kasih karena sudah mengunjungiku hari ini. Sudah sebulan ini, hampir tiap hari kamu menjumpaiku setelah lamaaa sekali kita tidak bersua. Hari ini kau nampak galau hujan. Mendung yang mengiringimu gelap sekali dan suara gunturmy keras terdengar. Semoga kau ndak sedang baper ya Hujan ?

Aku tau kenapa kamu galau Hujan. Kamu selalu dijadikan kambing hitam banyak orang. Padahal kamu ndak berjenggot seperti kambing, apalagi hitam. Kalau kamu berjenggot, hai Hujan, kamu mungkin ndak dituduh sebagai kambing hitam … tapi akan dibilang anggotanya ISIS atau kelompok muslim radikal. Ah Hujan.

Continue reading Hai Hujan, apa kabarmu hari ini ?

Ndak ada itu namanya orang jahat

Semalam untuk nemenin nguprek-nguprek kerjaan saya, biar ndak galau, diputerlah film dari koleksi yify yg sudah nongkrong lama di harddisk. Terpilihlah film Looper yg menurut IMDB punya rating 7.4, sebenarnya sdh dua kali nonton film ini. Tapi yang pertama bagian awalnya doang, dan harus berhenti karena harus nemenin Asti ke sekolah waktu itu, dan yang kedua adalah bagian belakangnya doang, karena nonton di tivi dan sudah masuk mungkin 70% waktu tayangnya. Dan juga kangen sama akting Bruce Willis, Joseph Levitt dan Emily Blunt (ok ngaku saya … tolong hapus dua nama pertama, hehehhe). 

Screen Shot 2016 02 23 at 6 35 28 AM

Film Looper ini bercerita tentang konsep dunia satu Paradox, dimana Joe (Joseph Levitt) adalah seorang pembunuh bayaran yang ditugaskan membunuh seseorang yang dikirim dari masa depan. Nah suatu saat, Joe menyadari bahwa dia harus “closing the loop” ketika korban yang akan dikirim ternyata adalah versi tua Joe (Bruce Willis). Karena ragu untuk membunuh, Si Joe tua melarikan diri dan berusaha melakukan agenda rahasianya, yaitu membunuh bakal pimpinan tertinggi mafia di masa depan (yang pada saat itu masih kecil).

Eh apa hubungannya nih film dengan judul tulisan “Ndak ada itu namanya orang jahat”

Continue reading Ndak ada itu namanya orang jahat

Tentang LGBT: ketika Eve menjadi Steve

Lini masa sosial media saya beberapa minggu ini ramai dengan LGBT. Baik itu yang pro atau yang kontra. Ada yang hanya sekedar bilang setuju/ndak setuju, mengkaji secara ilmiah. menghubungkan dengan agama, atau membuat humor cerdas tentang LGBT. Ketika ada debat tentang dua kubu yang kedua belah pihak merasa benar, biasanya malas untuk saya berkomentar tentangnya, tapi tentang LGBT ini cukup menggelitik saya untuk menulisnya. 

Saya juga bingung dengan aneka keributan yang sekarang terjadi di media masa tentang LGBT sekarang ini dari kedua belah pihak. Menurut saya debat kusir antara dua kubu ini hanya akan jadi pepesan kosong yang akan dimanfaatkan oleh segelintir orang atau kelompok untuk kepentingan mereka sendiri.

Continue reading Tentang LGBT: ketika Eve menjadi Steve